Jam
menunjukan pukul 06.55. Seorang gadis muda tampak berlari-lari dari arah barat.
Hampir saja ia terjatuh ketika tersandung sebuah batu kecil. Ia terus berlari
walau ia tahu bahwa jalanan licin karena hujan semalam. Hingga tiba ia di
sebuah tikungan sempit dalam gang dan ia terpeleset, alhasil kali ini ia jatuh
dengan sukses. Namun tak menunggu waktu lama, ia segera bangkit, membersihkan
rok panjangnya sebentar dan berlari kembali. Sampai juga ia di tempat yang
dituju, sekolah.
“Pak satpam
tunggu sebentar! Jangan ditutup dulu gerbangnya.” katanya dengan wajah panik
saat melihat satpam sekolahnya menutup gerbang depan.
“Oh, kamu Imel, sudah berapa kali kamu terlambat minggu ini, hah?! Sebenarnya
aku enggan mengijinkan anak yang terlambat walau hanya satu menit untuk masuk.
Tapi kali ini kau ku bolehkan masuk dan ingat, tak ada toleransi lagi lain
kali.” pak satpam yang terkenal galak itu membuka gerbang kembali dan
mengijinkan gadis itu masuk.
“Terimakasih banyak pak!” teriak gadis itu kegirangan sambil berlari masuk
kelas. Sekilas Imel melirik Rio, teman basketnya yang menawan.
Imel merupakan nama lengkap
dari IImelda Dian Utami ,
gadis yang sekarang duduk di kelas XI SMA. Ia anak pertama dari lima
bersaudara, semua adiknya laki-laki. Ia tinggi kurus berkulit sawo matang
dengan potongan rambut pendek lurus hampir seperti anak lelaki. Sudah beberapa
hari ini ia datang terlambat ke sekolah, entah apa sebabnya.
Hidup Imel
mungkin bisa dibilang tak begitu menyenangkan seperti teman-teman sebayanya. Saat
SMP, kedua orangtuanya bercerai, ayahnya meninggalkan mereka tanpa uang sepeser
pun. Ibunya memutuskan untuk pindah ke kota lain dan memulai hidup baru
walaupun sederhana. Di sekolah, Imel bergabung dengan tim basket, olahraga
favoritenya yang telah ditekuni semenjak SD kelas empat.
“Hai Imel,
enggak terlambat lagi? tanya Nina, teman sebangku sekaligus sesama tim basket
SMA dengan nada bercanda.
Imel hanya menjawab dengan senyuman. Ia segera mengeluarkan buku matematika,
pelajaran pertama hari itu. Pak Sato guru matematika mereka terlihat masuk
kelas.
“Ulangan minggu kemarin sudah bapak periksa dan akan bapak bagikan hasilnya
sekarang, selamat Imel kamu satu-satunya yang mendapat nilai sempurna,
seratus.” kata Pak Sato mengawali pertemuan hari itu.
Sebagian anak bertepuk tangan untuk Imel. Ada yang menatap iri padanya. Ada
pula yang melongo tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang anak miskin yang
selalu datang terlambat dan bau keringat bisa mendapat nilai matematika terbaik
di kelas. Begitu pikir sebagian anak. Sementara sisa anggota kelas yang lain
tidak peduli apa yang terjadi. Sementara Imel hanya tersenyum garing. Ada
sesuatu yang sangat mengganggu pikirannya. Tapi hanya ia pendam dalam hati.
Sepulang
sekolah seperti biasa ia bermain basket di lapangan basket yang tidak jauh dari
rumah maupun sekolahnya. Ia bermain bersama tim basket sekolahnya dimana ia
dipercaya sebagai kapten. Walaupun tidak ada jadwal latihan, ia selalu
menyempatkan diri untuk bermain basket walaupun hanya seorang diri.
“Aku pulang dulu teman-teman, dah.” pamit Imel saat latihan selesai.
“Oh ayolah Imel, baru jam 03.00 sore, duduk-duduk dulu sama kita sini.” ajak
salah seorang teman kepada Imel.
“Maaf aku tidak bisa, aku harus pulang sekarang.” tolaknya
“Boleh aku antar pulang?” tiba-tiba Rio menyela pembicaraan.
“Oh wow!” Imel kaget dan tak percaya tapi ia segera menolak.
“Eh maaf, aku bisa pulang sendiri kok, rumahku deket.”
“Ya udah kalau gitu,” jawab Rio.
Hari
selanjutnya Imel tidak masuk sekolah. Tidak ada kabar sama sekali, hingga
datang sebuah pesan singkat ke handphone Nina bahwa ibu Imel telah meninggal
dunia. Satu kelas kaget dan pulang sekolah mereka melayat ke rumah Imel untuk
memberi ucapan belasungkawa. Namun tak seperti yang mereka duga, Imel sama sekali tak menampakan kesedihan. Ia
tampak tegar dan bahkan tidak menangis.
Esoknya,
saat ia sedang berjalan ke lapangan basket, seorang anak perempuan dengan
sengaja menyilangkan kaki di depan Imel hingga ia terjatuh.
“Ups, maaf sengaja.” katanya tanpa merasa bersalah sama sekali.
“Hei, apa maksudmu!” dengan muka marah Imel bangkit menghampiri gadis yang
bernama Viana tersebut.
“Hei kamu, anak yatim miskin, item, jelek dekil dan bau kambing mulai sekarang
nggak usah deketin Rio lagi. Rio itu calon pacar gue tahu!” Viana menyerang Imel
dengan kata-katanya.
“Rio itu temen aku, masalah buat loooe!” jawab Imel santai.
“Heh anak bau, pergi sana, kamu nyebelin banget tau nggak si.” Viana menghardik
Imel.
Imel tidak
mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung pergi, namun bukan ke lapangan basket
seperti tujuan awalnya tadi. Ia berlari ke pinggir danau yang teduh dan sepi.
Dan diam-diam ia meneteskan air mata. Yap, Imel si tegar, ia menangis.
“Ya Tuhan, kenapa. Kenapa semua ini terjadi? Kenapa kau ambil segalanya dari hidupku!
Kau bawa pergi ayahku, Kau ambil ibuku dan semua kebahagianku!” secara tak
sadar Imel mulai berteriak dan mengeluarkan segala unek-uneknya karena memang
tak akan ada yang mendengar.
“Kenapa semua orang bisa hidup tenang dan bermimpi, sementara aku? Bahkan tak
ada satu pun orang yang mau mendengarku. Tak ada yang mau mendengar! Tak
seorang pun bisa memberi jawaban. Aku bahkan tak punya teman.”
“Aku
mau kok ndengerin kamu.” tiba-tiba suara lain muncul dari belakang.
“Nina, kamu lagi ngapain disini?” kata Imel kaget saat melihat Nina tiba-tiba
muncul.
“Sebenernya tadi aku lihat kamu sama Viana di jalan, lalu aku ngikutin kamu
sampai sini. Jangan anggap kamu nggak punya sahabat. Aku disini mau kok
ndengerin semua curhat kamu.”
“Nina…” Imel tertegun sejenak lalu memeluk Nina sambil menangis lagi.
“Nin, aku enggak setegar yang kamu lihat selama ini. Selama ini aku itu palsu.
Aku cuma menjalan peran dari status yang terlanjur dilabelin ke diri aku. Aku
anak pertama dari lima bersaudara, aku enggak mungkin nangis saat ibu
meninggal, aku pengin ngajarin adik-adik aku buat tegar. Hidup itu keras.
Setelah ayah pergi, aku harus nyari uang buat biaya hidup keluarga aku. Aku
sama sekali nggak punya waktu buat main nggak jelas. Aku datang terlambat dan
penuh keringat karena aku harus lari dari rumah setelah belajar dan ngerjain PR
dari jam tiga pagi. Cuma itu waktu aku buat belajar, selebihnya aku rela jadi
buruh cuci dan juga aku sibuk ngerawat ibu aku yang sakit-sakitan. Aku belajar
keras karena aku nggak mau nyia-nyiain uang yang keluar untuk sekolah. Basket
itu cuma pelarian dari semuanya. Basket itu sahabat aku satu-satunya yang
bener-bener bikin aku bahagia. Aku capek Nin, aku capek.” panjang lebar Imel menjelaskan
semuanya.
“Aku emang nggak bisa selalu ada di samping kamu mel. Tapi aku harap kamu bisa
lebih terbuka sama aku, sahabat kamu, percayalah kamu itu enggak sendiri. Kamu
punya banyak temen di luar sana, kamu hanya perlu untuk membuka mata dan hatimu
untuk melihat semuanya lebih jelas. Memang tidak semua hal berjalan seperti
yang kita harapkan, tapi yang pasti semuanya akan baik-baik saja. Ikhlaskan
saja jalani semuanya walaupun aku nggak bisa ngrasain apa yang kamu rasain tapi
aku bakal terus support kamu, biar kamu kuat. Teruslah pegang mimpi kamu. Kamu
bakal sukses kalau kamu yakin.” Nina berucap panjang untuk mendukung Imel.
Semua baik-baik saja. Mereka berdua pun pulang dengan tersenyum.